Ambal, Karangkobar, Banjarnegara – Selasa, 15 September 2026
Polres Banjarnegara Bersama Pemerintah Desa Ambal, unsur pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat menggelar kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Bencana Tanah Longsor yang bertempat di Lapangan Dusun Klesem, Desa Ambal, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, pada Selasa (15/09/2026).
Kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana tanah longsor yang rawan terjadi di wilayah Kecamatan Karangkobar, khususnya Desa Ambal.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Ambal, dilanjutkan sambutan dari pihak Polres Banjarnegara sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan mitigasi bencana di tingkat masyarakat.
Materi edukasi dan sosialisasi kemudian disampaikan oleh BPBD Kabupaten Banjarnegara, yang memberikan pemahaman mengenai penyebab tanah longsor, tanda-tanda awal terjadinya longsor, langkah penyelamatan diri, serta pentingnya peran masyarakat dalam upaya mitigasi bencana.
Sebagai penutup, kegiatan diisi dengan simulasi penanggulangan bencana tanah longsor yang diperagakan oleh para relawan dari berbagai desa se-Kecamatan Karangkobar. Simulasi tersebut mendapat perhatian dan antusiasme tinggi dari masyarakat karena memberikan gambaran nyata tentang langkah-langkah penanganan saat terjadi bencana.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur, antara lain:
Polres Karangkobar beserta jajaran
Forkopimda Kabupaten Banjarnegara
BPBD Kabupaten Banjarnegara
Forkopimcam Karangkobar
Kepala Desa se-Kecamatan Karangkobar
Relawan dan Desa Tangguh Bencana (Destana)
Tokoh masyarakat, Ketua RT dan RW
Linmas
Organisasi kemasyarakatan (Ormas)
Warga masyarakat
Siswa-siswi SD Negeri 3 Ambal
Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi bencana tanah longsor cukup tinggi. Oleh karena itu, edukasi dan simulasi kebencanaan menjadi langkah penting agar masyarakat memiliki pengetahuan dan kesiapan dalam menghadapi situasi darurat.
Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin sinergi antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat dalam membangun budaya sadar bencana, sehingga risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan.